-->

Senin, 13 Maret 2017

Cerita Pembangunan Istana Bogor dari Masa ke Masa

author photo

Tamoranews.com - Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana Presiden Republik Indonesia yang unik, karena memiliki aspek historis, budaya, dan fauna. Istana yang memiliki ratusan pohon besar, rindang, dan rusa itu awalnya dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada pertengahan abad ke-18.

Bogor saat itu masih berupa kampung dengan suasana yang sejuk dan tenang. Saat itu Bogor hanya dihuni beberapa warga yang fokus pada lahan garapan subur di sekitar tempat tinggalnya. Tempat berdirinya Istana Bogor itu ternyata berhasil memikat sang gubernur.

Dia menilai orang Belanda terbiasa tinggal di daerah yang dingin dan Batavia--pusat pemerintahan dan perdagangan-- merupakan kota dengan suhu udara panas. Oleh karena itu, ketika menemukan lokasi Istana Negara, dia langsung jatuh cinta dan ingin membangun rumah peristirahatan untuk digunakan pada akhir pekan dan hari liburnya.

Awalnya, Van Imhoff membuat sendiri sketsa bangunannya pada 1745 dan meniru gaya bangunan Istana Blienheim yang terletak di Duke of Malborough, dekat Oxford, Inggris. Lalu dia memberi nama istana itu Puri Buitenzorg atau Sans Souci yang artinya tanpa kekhawatiran.

Istana itu dibangun tiga tingkat. Namun seiring perkembangan zaman terjadi perubahan pada bangunan awal yang dilakukan selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Herman Willem Daendels dan Sir Stamford Raffles). Jadi bangunan yang sebelumnya adalah rumah peristirahatan malah berubah menjadi istana seluas 14.892 m2.

Dikutip laman Indonesia.go.id, pada 1750 Van Imhoff meninggal dan digantikan oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Tempat itu menjadi tujuan favorit Gubernur Jenderal dan para petinggi VOC, hingga akhirnya dijadikan kediaman resmi Gubernur Jenderal.

Lalu pada 1802, di salah satu sudut halaman istana seluas 28 hektare didirikan sebuah gereja Protestan (Zebaoth) yang hingga saat ini, gereja itu masih difungsikan, namun lokasinya dipisahkan dari lahan Istana Bogor. Bangunan asli gereja itu juga sudah diganti pada awal abad ke-20.

Bersamaan dengan bangunan gereja, dibangun pula dapur pembuatan roti dan kue, ruang untuk bermain, dan tempat minum kopi di halaman. Sebuah rumah sakit juga didirikan di belakang kompleks Istana Buitenzorg.

Rumah sakit itu sekarang menjadi Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia, terletak di Jalan Pajajaran. Pada masa lalu, lahan rumah sakit itu masih menjadi bagian dari halaman luas Istana Buitenzorg.

Diambil Alih Jepang


Pada 10 Oktober 1834, Gunung Salak meletus dan terjadi gempa bumi yang mengguncang Istana Buitenzorg hingga menyebabkan kerusakan berat. Pada 1850 Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tak lagi bertingkat karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer (1855-1856) bangunan lama sisa gempa dirobohkan dan dibangun bergaya Eropa abad ke-19. Lalu pada 1870 Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Inggris--38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris--

Laman Disparbud.jabarprov.go.id menginformasikan, saat itu penghuni terakhir Istana Buitenzorg adalah Gubernur Jenderal Tjaarda Van Starkenborg Stachurwer yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang pada 1942.

Jepang memakai bagian bawah tanah sebagai sel tahanan untuk memenjarakan orang Belanda yang ditangkapnya. Seluruh dinding luar Istana Bogor dicat hitam agar tersamar dari serangan udara. Kolam-kolam indah dikeringkan airnya agar tidak memantulkan cahaya yang bias tampak dari udara, dan kemudian ditanami semak-semak.

Rumput di halaman Istana Bogor yang luas dibiarkan liar meninggi. Rusa yang jumlahnya sudah mencapai ratusan mulai punah, karena setiap hari disembelih dan dimakan oleh serdadu Jepang. Berbagai benda seni, keris, tombak pusaka sejarah yang terbuat dari logam pun dilebur, untuk dijadikan senjata.

Dipugar

Dalam kondisi compang-camping itulah Istana Bogor pada 1945 direbut oleh sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat. Namun perebutan itu tak berlangsung lama, ratusan pemuda itu diminta meninggalkan Istana Bogor oleh Hindia-Belanda yang merasa jadi perintis istana.

Baru pada akhir 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan Istana Bogor diserahkan resmi ke Pemerintah Republik Indonesia. Pada 1950, setelah masa Kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia.

Pada 1952 pemugaran dilakukan bertahap. Pemugaran bahkan dipercepat karena Istana Bogor akan dijadikan tempat pertemuan pemimpin lima negara--Perdana Menteri India, Burma, Sri Lanka, Pakistan, Indonesia-- pada 1954.

Kemudian menjelang 1960, Istana Bogor menjalankan fungsi yang sama dengan Istana Merdeka dan Istana Negara di Jakarta, yaitu sebagai tempat kediaman sekaligus tempat kerja Presiden Republik Indonesia.

Hingga pada 1968, atas restu Presiden Soeharto, Istana Bogor resmi dibuka untuk kunjungan umum. Arus pengunjung dari luar dan dalam negeri mencapai belasan ribu orang. Pada 15 November 1994, Istana Bogor menjadi tempat pertemuan tahunan menteri ekonomi APEC (Asia-Pasific Economi Cooperasion).

Lalu pada 16 Agustus 2002 di masa pemerintahan Megawati digelar acara 'Semarak Kemerdekaan' untuk memeringati HUT RI ke-57. Pada 20 November 2006, Presiden Amerika Amerika Serikat George W. Bush melangsungkan kunjungan kenegaraan ke Istana Bogor dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.

Kunjungan singkat itu berlangsung selama enam hari. Kemarin atau pada 1 Maret 2017, Presiden Joko Widodo menggunakan Istana Bogor untuk menyambut Raja Arab Saudi Salman Bin Abdulaziz Al Saud.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post