-->

Jumat, 17 Maret 2017

Ini 5 Mitos dan Fakta tentang Orang Minang

author photo

Tamoranews.com - Sebagian besar masyarakat Indonesia yang bukan berasal dari Sumatera Barat, menganggap semua orang yang tinggal di Kota Padang adalah orang Padang. Padahal orang-orang yang ada di kota tersebut berasal dari banyak daerah seperti Pariaman, Padang Panjang, Sawahlunto, dan lainnya.

Tetapi kata yang tepat untuk menandakan orang tersebut dari Sumatera Barat adalah mereka berasal dari Suku Minangkabau. Berbicara soal orang Minang, tidak sedikit orang menilai negatif terhadap beberapa hal.

Padahal semua itu tidak selalu sesuai dengan kenyataannya. Nah agar tidak lagi salah menafsirkan sifat-sifat orang Minangkabau, berikut ini adalah fakta dan mitos mengenai suku Minang yang tidak banyak diketahui.

1. Perantau

Sebagian besar orang Minang senang marantau. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, salah satunya ekonomi. Minimnya lapangan pekerjaan di kampung halaman membuat mereka dengan berat hati menuju negeri seberang untuk mencari nafkah. Mereka pun banyak memilih jadi pedagang sebagai mata pencahariannya.

Usaha yang populer bagi orang di Perantauan adalah membuka rumah makan masakan padang, berjualan pakaian dan produk fashion lainnya. Contohnya, orang Padang sangat mudah dijumpai berjualan di pusat grosir pakaian terbesar di Indonesia yaitu Tanah Abang.

Dan lebih dari 70 persen penjual pakaian di sana adalah orang Padang. Orang Pariaman juga sangat terkenal dengan masakannya, kalau Anda makan di rumah makan Padang mungkin saja si pemilik berasal dari Pariaman.

2. Pelit

Penilaian negatif ini sudah lama berkembang dan terekam di benak masyarakat Indonesia. Prasangka buruk ini tidak sepenuhnya benar, loh. Karena mungkin saja Anda kebetulan bertemu dengan orang Minang yang pelit.

Faktanya, orang Minang hanya selektif menggunakan uang. Karena sebagian besar mereka adalah pedagang, tentu akan perhitungan mana yang menjadi skala prioritas untuk dibeli mana yang tidak. Lalu faktor yang lainnya adalah banyak orang Minang yang merantau suka membantu pembangunan di kampung halamannya, seperti pembangunan masjid.

Jika hari raya tiba, biasanya para perantau ini berlomba-lomba meyumbang untuk pembangunan masjid di kampung halamannya bahkan jumlahnya bisa menyentuh angkaa ratusan juta rupiah. Selain itu, orang Minang juga mempunyai rasa sosial yang tinggi, jadi jika ada yang sudah sukses mereka tidak segan membantu kawan satu kampungnya.

3. Cerewet

Orang Minang juga diidentikan dengan cerewet atau judes. Sifat ini sebenarnya alamiah bukan milik orang Minang saja. Faktanya, sebagian besar watak orang Sumatera adalah keras dan tegas, tidak suka bertele-tele. Itulah yang menjadi prinsip yang dipegang banyak orang Minang.


4. Pria Minangkabau 'dibeli'

Banyak yang bertanya kebenaran isu tersebut. Jika orang Minang baru menginjakkan kaki di perantauan, maka soal laki-laki yang dibeli menjadi pertanyaan yang akan didengar.

Faktanya tidak semua laki-laki Minang itu dibeli, hanya di Pariaman saja laki-laki dibeli dan masih berlaku sampai saat ini. Sebenarnya tidak ada transaksi manusia di sini, yang ada hanyalah proses adat istiada yang berlaku pada masyarakat Pariaman.

Setiap pihak calon mempelai wanita memberikan sejumlah uang yang jumlahnya sudah dimusyawarahkan dengan keluarga calon mempelai pihak pria. Uang pemberian ini biasanya disebut uang jemputan, adapun tujuannya adalah sebagai bekal untuk mempela pria dalam membangun rumah tangga dan sebagiannya lagi untuk biaya resepsi pernikahan atau disebut juga dengan baralek.

Di Pariaman ini biasanya besar uang jemputan dilihat dari profesi dan penghasilan, laki-laki dengan profesi populer seperti polisi, tentara, dokter mendapatkan uang jemputan yang besar dengan kisaran Rp50 juta sampai dengan Rp150 juta.

5. Orang Minang dijodohkan

Perjodohan bukanlah hal yang wajib lagi bagi orang Minang. Sama dengan masyarakat suku lainnya, tentu orang tua ingin anaknya memiliki pasangan hidup yang baik dari segi finansial, pendidikan, agama dan prilaku. Kalau orang Jawa terkenal dengan istilah lihat bibit, bebet dan bobotnya, begitu juga dengan orang Minang.

Sekarang perjodohan orang Minang tidak terlalu kental, banyak orang tua memberikan kebebasan untuk anaknya dalam memilih pasangan hidup, walaupun memberi kebebasan memilih. Para orang tua ini tetap memberi kriteria calon pasangan seperti apa yang baik kapada anaknya. Jadi tinggalkan prasangka negatif mengenai perjodohan orang Padang.

*) Sumber : Pariwisatapadang.com

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post