-->

Selasa, 19 November 2013

5 Cerita Barter Produk Indonesia Dengan Negara Lain

author photo
Sistem barter merupakan metode kuno dalam sistem perdagangan di dunia. Pola transaksi itu dikenal jauh sebelum ada yang namanya uang sebagai alat tukar.

Penerapan sistem barter sangat sederhana. Cukup menukar satu barang dengan barang yang dimiliki orang lain. Tentunya setelah terjadi kesepakatan antar kedua belah pihak. Namun, sistem kuno ini sudah lama ditinggalkan dan punah seiring dengan penemuan uang sebagai alat pembayaran.

Bicara soal sistem perdagangan, di era modern yang semakin maju, sistem perdagangan pun semakin berkembang. Namun siapa sangka jika sistem barter masih diberlakukan dalam perdagangan produk antar negara. Indonesia termasuk yang menjalankan sistem perdagangan kuno ini dengan dalih agar tercipta keseimbangan dan keadilan.

Sistem barter seperti ini masuk dalam konsep Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA). Konsep ini yang tengah gencar diperjuangkan Indonesia lantaran dinilai lebih sehat dan tidak merugikan kepentingan nasional. Dalam perdagangan antar negara atau antar wilayah, Indonesia menginginkan adanya konsep keadilan. Intinya, produk Indonesia jangan dipersulit masuk ke negara mitra dagang jika produk mereka ingin diekspor ke Tanah Air.

Dalam penerapannya, produk negara lain bebas masuk ke Indonesia dengan syarat produk Indonesia juga boleh masuk ke negara tersebut. Dalam pembicaraan kerja sama perdagangan bilateral, Indonesia menawarkan produk andalannya untuk masuk ke negara mitra dagang.

Belum lama ini, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, untuk kerja sama perdagangan diperlukan kehati-hatian dari sisi Indonesia.

CEPA diklaim lebih baik dibandingkan free trade agreement atau perdagangan bebas. "Kalau free trade saja, saya tidak setuju karena bisa menimbulkan defisit. Sedangkan untuk CEPA, jauh lebih baik," ujar Hatta Rajasa beberapa waktu lalu.

Dalam konteks perdagangan bebas dan penerapan sistem barter produk antar negara, ada kesepakatan pertukaran produk Indonesia dengan negara lain. Dilansir dari Merdeka.com. Berikut paparannya:

1. Ikan dibarter beras Thailand


Pemerintah Indonesia dan pemerintah Thailand memiliki rencana saling tukar menukar atau barter komoditi pangan masing-masing. Indonesia menawarkan ikan, sementara Thailand menyiapkan beras.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung mengungkapkan, rencana tersebut tidak menjadi persoalan.

"Kalau barter itu dilakukan dari segi neraca perdagangan, jadi kalau kita ekspor ikan ke sana dan kita impor beras ya tidak masalah," ungkap Saut di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Juli lalu.

Pemerintah tidak mempersoalkan barter ikan dan beras, selama bukan memberikan akses untuk penangkapan. Pemerintah menutup akses bagi Thailand menangkap ikan di Indonesia. "Yang jadi masalah kalau Thailand minta akses untuk penangkapan," ujar Saut.

2. Sawit dibarter mobil Jerman


Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik rencana kerja sama ekonomi Indonesia-Jerman yang digagas tahun ini. Bila terwujud, maka beberapa produk ekspor unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO) bisa lebih leluasa masuk pasar Eropa.

Ketua Apindo Sofjan Wanandi menyatakan posisi Jerman strategis lantaran menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di Eropa saat ini. "Jerman masuk bawa negara-negara Eropa lain, karena mereka lokomotif Eropa itu sendiri. Kalau ekspor ke sana, kita punya basis mengirim kelapa sawit diproses menjadi sabun dan macam-macam," ujarnya beberapa waktu lalu.

Sebagai ganti, Indonesia membuka peluang Jerman ingin memperbanyak investasi padat modal sektor otomotif teknologi ke Tanah Air. Dia pun meminta pemerintah akomodatif karena investasi semacam itu tidak akan terhalang isu upah buruh.

"Investasi (Jerman) ke sini proyek-proyeknya agak besar. Yang mau masuk bangsa pabrik mobil Volkswagen, Ferosthal, perusahaan-perusahaan UKM di sana juga ingin masuk ke sini. Saya dengar mereka juga ingin kerja sama bidang perkapalan," ungkap Sofjan.

3. Sawit dibarter batu bara dan teknologi India


Selepas kunjungan Perdana Menteri India, Manmohan Singh ke Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu, ditandatangani perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA). Isinya tak hanya mencakup liberalisasi beberapa sektor dan komoditas perdagangan, melainkan juga proses alih teknologi.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjadi tim perunding CEPA dengan India. Dia mengatakan, Indonesia akan mengusahakan supaya produk unggulan bisa lebih mudah diekspor ke Negeri Sungai Gangga tersebut.

"Kita upayakan mulai negosiasi CECA antara Indonesia dan India secara bilateral. Kelapa sawit, batu bara, sumber daya alam, juga furniture sudah mulai banyak di sana," ujar Gita beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, India sangat kuat dalam sektor teknologi, mulai dari perangkat lunak dan produk elektronik. Karenanya, CEPA dirancang untuk tak sekadar menggarap aspek perdagangan.

"Industri yang berteknologi, mereka cukup kuat selama ini. Justru kita pengen dalam CECA ini semangat alih teknologinya," kata Gita.

Melalui perjanjian ini, diharapkan nilai perdagangan kedua negara bisa mencapai USD 25 miliar (setara Rp 284 triliun) pada 2025. Implikasi dari CECA lainnya, adalah pertemuan tingkat menteri setiap tahun dalam joint commision, buat merumuskan langkah strategis mencapai target.

4. Masakan padang dengan minyak Nigeria


Kementerian Perdagangan menawarkan perjanjian kerja sama ekonomi terbatas dengan Nigeria. Negara Afrika itu merupakan salah satu eksportir minyak untuk kebutuhan bahan bakar Indonesia, selain Arab Saudi dan Iran.

Besarnya impor minyak dari negara tersebut, bikin neraca perdagangan dari sisi Indonesia melempem. Tahun lalu, defisit dagang dengan Nigeria mencapai USD 1 miliar. Sebab ekspor dari Indonesia ke Nigeria hanya mencapai USD 500 juta.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Gusmardi Bustami mengatakan pihaknya mengupayakan agar negara kawasan Afrika Barat itu bersedia membuka pasar bagi produk unggulan Tanah Air, misalnya masakan padang, tekstil, dan alas kaki.

Gusmardi menyatakan beberapa produk Indonesia, khususnya nasi padang, digemari warga Nigeria. "(Warga Nigeria) sangat senang dengan restoran Padang. Secara kultur kita dekat, tinggal bagaimana menggali ini untuk meningkatkan hubungan ke depan," ujarnya di kantornya, akhir pekan ini.?

Bila kerja sama itu bisa terlaksana, maka kebijakan Nigeria yang melarang ratusan produk Indonesia masuk dapat dicabut. Saat ini, Kemendag mencatat lebih dari 200 barang buatan Tanah Air dilarang masuk ke pasar negara kaya minyak ini lantaran berpotensi mengalahkan produk dalam negeri mereka yang serupa, terutama tekstil.

Kemendag mengklaim Nigeria mulai melunak dan mengizinkan pembuatan draf awal perjanjian kerja sama itu. Formatnya adalah preferential trade agreement (PTA), yaitu beberapa produk Indonesia atau Nigeria dikenai bea masuk di bawah 20 persen. Kebijakan ini akan menguntungkan produk tekstil, sepatu olah raga, farmasi, alas kaki, dan kerajinan Indonesia yang selama ini sepenuhnya dilarang masuk.

5. Ikan dibarter kapas dari Turki


Perdagangan antara Indonesia dan Turki dianggap belum maksimal. Padahal banyak potensi bisnis yang dapat digarap kedua negara.

Perwakilan Kamar Dagang dan Industri Turki (TUSKON) Osman Hakan Cepken menyatakan banyak pengusaha dari negaranya yang berminat menanamkan modal di Indonesia. Dia juga melihat banyak peluang bagi pelaku usaha Tanah Air mengekspor produk-produk ke negaranya.

"Buat saya sangat banyak kesempatan bisnis yang dapat ditingkatkan, Indonesia kaya sumber daya alam, selain minyak dan gas, sektor bisnis yang potensial bagi pengusaha Indonesia adalah ekspor produk perikanan," ujarnya kepada merdeka.com dalam pertemuan delegasi bisnis Turki-Indonesia, di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (19/2).

Perwakilan pengusaha Indonesia Rudy Pesik, di lain pihak, menyebut Turki sangat potensial sebagai pasar minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan kopi. Dia mengaku baru saja membuka toko kopi di Istanbul dan sukses besar. Selain itu, dia melihat industri garmen Tanah Air perlu melirik Turki sebagai salah satu produsen kapas terbesar di dunia.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post